Kebijakan the FED

PERSIAPAN FOMC 29 OKTOBER 2026: ARAH DOLAR AS, EMAS, MINYAK, INFLASI, DAN KETEGANGAN GEOPOLITIK

TSI UPDATE = BERITA EKONOMI GLOBAL

Rendra 9 menit baca
Jadwal news fomc

PERSIAPAN FOMC 28 OKTOBER 2026: ARAH DOLAR AS, EMAS, MINYAK, INFLASI, DAN KETEGANGAN GEOPOLITIK

Menjelang keputusan Federal Open Market Committee (FOMC), pasar global menghadapi sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari ketahanan ekonomi Amerika Serikat, inflasi yang masih tinggi, kenaikan harga energi, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Seluruh faktor tersebut menjadi penting karena dapat memengaruhi keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), nilai dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah, dan harga emas.

Fokus pasar bukan hanya apakah The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi juga apakah bank sentral memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat hingga akhir tahun.

1. FOMC DAN PROSPEK SUKU BUNGA AMERIKA SERIKAT

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter pada Rabu, 28 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat, atau Kamis dini hari, 29 Oktober waktu Indonesia. Pasar secara luas memperkirakan suku bunga tetap berada pada kisaran 3,75%–4,00%.

Sebelum keputusan diumumkan, perhatian investor tertuju pada kemungkinan bahwa suku bunga akan dipertahankan, tetapi pernyataan The Fed tetap menekankan risiko inflasi. Pasar juga memperhatikan apakah Ketua The Fed Kevin Warsh akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan pada pertemuan Desember.

Inflasi yang bertahan di atas target 2% dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. Jika tekanan harga masih kuat, terutama akibat energi dan biaya produksi, bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan tambahan.

Sebaliknya, jika The Fed lebih mengkhawatirkan perlambatan ekonomi dan memberikan sinyal kebijakan yang lebih lunak, dolar AS dapat kehilangan sebagian dukungannya.

Karena keputusan mempertahankan suku bunga sudah banyak diantisipasi pasar, reaksi harga akan sangat dipengaruhi oleh isi pernyataan dan konferensi pers, bukan hanya keputusan suku bunga itu sendiri.

2. DATA EKONOMI AS MENUNJUKKAN AKTIVITAS BISNIS MASIH KUAT

Sejumlah indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS masih memiliki ketahanan.

PMI manufaktur awal Oktober tercatat 56,0, sementara PMI jasa berada di 57,9. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas bisnis. Meskipun aktivitas jasa sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, sektor tersebut masih menunjukkan pertumbuhan.

Klaim pengangguran awal sebelumnya tercatat 194.000, lebih rendah daripada perkiraan 200.000. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah pengajuan tunjangan pengangguran baru masih relatif rendah.

Pesanan barang tahan lama juga meningkat 1,8%, melampaui perkiraan kenaikan 1,5%. Data ini memberikan gambaran bahwa permintaan terhadap sejumlah barang berumur panjang masih bertahan.

Namun, data ekonomi yang kuat tidak otomatis membuat The Fed menaikkan suku bunga. Bank sentral tetap perlu mempertimbangkan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan dampak kebijakan yang sudah diterapkan.

Jika ekonomi tetap kuat ketika inflasi belum terkendali, alasan untuk mempertahankan kebijakan ketat menjadi lebih kuat. Sebaliknya, apabila data berikutnya menunjukkan pelemahan yang signifikan, The Fed dapat menghadapi pertimbangan yang lebih seimbang antara inflasi dan pertumbuhan.

3. INFLASI, PCE, DAN BIAYA ENERGI

The Fed menargetkan inflasi sebesar 2% dalam jangka panjang dan menggunakan Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai salah satu ukuran inflasi utamanya.

PCE mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Core PCE mengecualikan makanan dan energi agar tekanan inflasi yang lebih mendasar dapat dinilai dengan lebih jelas.

Harga minyak menjadi faktor penting karena memengaruhi biaya transportasi, produksi, distribusi, dan berbagai kegiatan usaha. Ketika energi menjadi lebih mahal, perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya operasional. Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, tekanan inflasi dapat meluas ke sektor lain.

Menjelang FOMC, pasar juga menantikan rilis PCE dan Core PCE pada Kamis, 29 Oktober. Perlu diperhatikan bahwa data tersebut dijadwalkan setelah keputusan FOMC, sehingga tidak boleh dianggap sebagai data yang sudah diketahui oleh pasar ketika keputusan diumumkan.

Jika PCE dan Core PCE lebih tinggi daripada perkiraan, ekspektasi kebijakan ketat pada Desember dapat menguat. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dan aktivitas ekonomi melambat, tekanan untuk mempertahankan kebijakan ketat dapat berkurang.

4. GEOPOLITIK TIMUR TENGAH MENJADI RISIKO BAGI PASOKAN MINYAK

Ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan pasar energi. Pada 28 Oktober, Reuters melaporkan bahwa kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi.

Pada saat laporan tersebut diterbitkan, pihak berwenang Saudi belum langsung mengonfirmasi klaim serangan tersebut. Karena itu, informasi tersebut perlu dipahami sebagai klaim yang dilaporkan, bukan sebagai seluruh detail kejadian yang telah dikonfirmasi secara independen.

Laporan yang sama menyebutkan harga minyak Brent meningkat menjadi sekitar US$115,36 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik menjadi sekitar US$101,12 per barel.

Kekhawatiran pasar muncul karena konflik yang meluas dapat mengganggu fasilitas produksi, ekspor, atau jalur pengiriman energi. Selat Hormuz menjadi titik strategis karena merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.

Jika gangguan pasokan berlangsung lama, harga minyak dapat bertahan tinggi dan meningkatkan biaya energi global. Namun, apabila jalur pengiriman tetap berjalan dan ketegangan mereda, premi risiko geopolitik pada harga minyak dapat berkurang.

Perkembangan diplomasi juga perlu diperhatikan. Upaya perundingan dapat menurunkan kekhawatiran pasar apabila menghasilkan kemajuan nyata, tetapi keberadaan perundingan saja belum menjamin konflik akan segera berakhir.

5. DAMPAK HARGA MINYAK TERHADAP KEBIJAKAN THE FED

Kenaikan minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya bahan bakar, transportasi, produksi, dan distribusi barang.

Jika kenaikan tersebut berlangsung terus-menerus, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Namun, kenaikan minyak juga dapat menekan daya beli rumah tangga dan meningkatkan biaya usaha. Apabila tekanan biaya semakin besar dan konsumsi melemah, pertumbuhan ekonomi dapat melambat.

Dengan demikian, minyak mahal membawa dua risiko sekaligus: inflasi yang lebih tinggi dan potensi pelemahan aktivitas ekonomi. Respons The Fed bergantung pada seberapa besar tekanan inflasi menyebar serta bagaimana kondisi pertumbuhan dan tenaga kerja berkembang.

Bagi pasar, minyak yang naik dapat mendukung ekspektasi kebijakan ketat, tetapi tidak otomatis membuat dolar menguat pada setiap kesempatan. Reaksi DXY juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar, pergerakan yield, dan perkembangan mata uang utama lainnya.

6. DXY DAN IMBAL HASIL OBLIGASI AS

Indeks dolar AS atau DXY berada di sekitar 102,37–102,40 pada perdagangan 28 Oktober dan mendekati level tertinggi dua minggu. Pada saat yang sama, yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5%.

Yield obligasi yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik relatif aset berdenominasi dolar, meskipun pergerakannya juga dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi, pertumbuhan, dan permintaan obligasi.

Dolar mendapatkan dukungan dari ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat jika inflasi tetap tinggi. Akan tetapi, pasar telah memperhitungkan kemungkinan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Oktober.

Karena itu, jika keputusan sesuai perkiraan tetapi pernyataan The Fed lebih lunak daripada yang diantisipasi, DXY masih dapat melemah. Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal bahwa pengetatan tambahan tetap terbuka, yield dan dolar dapat kembali menguat.

Perlu dibedakan antara keputusan suku bunga Oktober dan ekspektasi kebijakan Desember. Peluang pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Desember bukan berarti The Fed sudah memutuskan untuk menaikkannya.

7. DAMPAK TERHADAP HARGA EMAS

Harga emas bergerak di tengah tarik-menarik antara tekanan dolar dan yield dengan permintaan aset lindung nilai.

Pada Selasa, 27 Oktober, emas sempat pulih sekitar 1% setelah harga minyak melemah dan kekhawatiran inflasi sedikit mereda. Reuters melaporkan harga emas spot sempat mencapai sekitar US$4.055 per ons setelah sebelumnya turun hingga mendekati US$3.987.

Pada perdagangan Asia 28 Oktober, emas dilaporkan relatif stabil di sekitar US$4.057,95 per ons.

Dolar yang kuat dapat menekan emas karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Yield obligasi yang tinggi juga meningkatkan biaya peluang memegang emas karena emas tidak memberikan bunga.

Namun, ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Minyak yang lebih mahal juga dapat menambah kekhawatiran inflasi, tetapi efek akhirnya terhadap emas bergantung pada apakah pasar lebih menekankan permintaan perlindungan atau risiko suku bunga tinggi.

Jika pernyataan FOMC lebih hawkish daripada perkiraan, dolar dan yield berpotensi menguat sehingga emas dapat menghadapi tekanan. Jika pernyataannya lebih dovish, emas dapat memperoleh dukungan, terutama jika DXY dan yield ikut melemah.

8. PERSIAPAN DATA EKONOMI SETELAH FOMC

Setelah keputusan FOMC, pasar akan memantau sejumlah data ekonomi AS pada Kamis, 29 Oktober, termasuk GDP kuartal III, PCE, Core PCE, pendapatan pribadi, belanja pribadi, dan klaim pengangguran.

GDP memberikan gambaran mengenai pertumbuhan ekonomi. PCE dan Core PCE membantu menilai perkembangan inflasi, sedangkan klaim pengangguran memberikan informasi mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

Jika pertumbuhan ekonomi tetap kuat dan inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, ekspektasi kebijakan ketat dapat menguat. Jika pertumbuhan melambat dan inflasi mereda, pasar dapat menilai bahwa tekanan untuk mempertahankan suku bunga tinggi mulai berkurang.

Data tersebut dirilis setelah keputusan FOMC, sehingga fungsinya adalah membantu pasar menilai langkah The Fed berikutnya, bukan menjadi dasar data yang telah diketahui untuk keputusan Oktober.

9. SKENARIO FUNDAMENTAL DXY, EMAS, DAN MINYAK

Skenario pertama adalah FOMC hawkish. Jika The Fed menekankan risiko inflasi dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember, DXY dan yield berpotensi menguat. Kondisi ini dapat menekan emas, sementara minyak tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan pasokan.

Skenario kedua adalah FOMC dovish. Jika The Fed lebih menekankan risiko perlambatan ekonomi atau tidak memberikan sinyal pengetatan tambahan, DXY dan yield berpotensi melemah. Emas dapat memperoleh dukungan, meskipun perkembangan geopolitik masih dapat menimbulkan volatilitas.

Skenario ketiga adalah reaksi campuran. The Fed dapat mempertahankan suku bunga tetapi memberikan pesan yang tidak jelas mengenai Desember. Dalam kondisi tersebut, pasar dapat bergerak dua arah, terutama ketika investor membandingkan pernyataan resmi dengan konferensi pers dan data ekonomi berikutnya.

Untuk minyak, eskalasi konflik atau gangguan pasokan dapat mendorong harga naik. Sebaliknya, kemajuan diplomasi dan pemulihan distribusi dapat mengurangi premi risiko geopolitik.

Ketiga skenario tersebut merupakan kemungkinan analitis, bukan kepastian arah harga.

10. KESIMPULAN FUNDAMENTAL MENJELANG FOMC

Secara keseluruhan, dolar AS masih mendapatkan dukungan dari yield Treasury yang tinggi, DXY yang mendekati level tertinggi dua minggu, serta kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan di atas target The Fed. Aktivitas bisnis yang masih ekspansif dan klaim pengangguran yang relatif rendah juga menunjukkan bahwa beberapa bagian ekonomi AS masih bertahan.

Di sisi lain, harga minyak dan ketegangan geopolitik menambah ketidakpastian terhadap prospek inflasi. Jika tekanan energi berlanjut, The Fed dapat mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Namun, kenaikan biaya energi juga dapat melemahkan daya beli dan menekan pertumbuhan ekonomi.

Untuk DXY, gambaran fundamental sementara cenderung mendukung dolar, tetapi konfirmasi tetap bergantung pada pesan FOMC dan reaksi yield. Untuk emas, tekanan dari dolar dan yield perlu dibandingkan dengan permintaan aset lindung nilai akibat risiko geopolitik. Untuk minyak, perkembangan konflik dan kondisi pasokan menjadi faktor utama.

Kesimpulan utama menjelang FOMC adalah bahwa keputusan suku bunga saja tidak cukup untuk menentukan arah pasar. Perhatian harus tertuju pada penilaian The Fed terhadap inflasi, kondisi ekonomi, dan kemungkinan kebijakan berikutnya. Setelah pengumuman, reaksi DXY, yield Treasury, emas, dan minyak perlu dibandingkan untuk menilai apakah pasar benar-benar mengonfirmasi skenario fundamental.

JADWAL PENTING WAKTU INDONESIA (WIB)

Kamis, 29 Oktober sekitar pukul 01.00: keputusan suku bunga FOMC. Kamis, 29 Oktober sekitar pukul 01.30: konferensi pers Ketua The Fed. Kamis, 29 Oktober malam: rilis GDP AS kuartal III, PCE, Core PCE, pendapatan dan belanja pribadi, serta klaim pengangguran sesuai kalender ekonomi.

Mulai dari percakapan

Ada berita yang perlu dibahas?

Bawa sudut pandangmu ke percakapan komunitas.

Mulai Bergabung