Komoditas
Minyak menembus US$100 saat AS dan Iran kembali melancarkan serangan.
Risiko gangguan pasokan di Timur Tengah mendorong harga minyak dan bahan bakar bergerak lebih tinggi.
Brent kembali ke atas US$100
Harga minyak Brent ditutup pada US$101,21 per barel, sementara minyak acuan Amerika Serikat berakhir di US$96,05. Kenaikan terjadi setelah serangan baru terhadap fasilitas dan kapal energi di Timur Tengah memperbesar risiko gangguan pasokan.
Level US$100 menjadi batas psikologis penting karena harga yang bertahan tinggi dapat meningkatkan biaya bagi konsumen dan dunia usaha. Pasar juga menilai konflik yang berlarut dapat menahan pemulihan arus pengiriman minyak.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian
Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pelayaran pada jalur sempit tersebut membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap serangan, perundingan, atau perubahan pengamanan kapal.
Jalur alternatif belum sepenuhnya menggantikan kapasitas Hormuz. Karena itu, kabar mengenai tanker, terminal minyak, dan infrastruktur negara Teluk dapat memicu pergerakan harga yang cepat.
Dampak yang dapat merambat ke pasar
Minyak yang lebih mahal dapat mendorong harga bensin, diesel, dan bahan bakar penerbangan. Biaya tersebut kemudian masuk ke ongkos angkut, harga pangan, perjalanan, hingga produk industri berbasis minyak.
Trader perlu membaca pergerakan minyak bersama data inflasi, imbal hasil obligasi, dan respons bank sentral. Hubungan antarpasar inilah yang menentukan apakah guncangan energi berhenti di komoditas atau meluas ke aset lain.