Energi
Oil Terkoreksi, PMI AS Menunjukkan Ekonomi Kuat
TSI UPDATE = BERITA EKONOMI GLOBAL
Oil Terkoreksi, PMI AS Menunjukkan Ekonomi Kuat, Dolar Melemah, dan Emas Mencoba Pulih
Pasar keuangan global pada Senin, 26 Oktober 2026, bergerak di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, meningkatnya tekanan harga, serta penantian keputusan kebijakan moneter Federal Reserve. Harga minyak mulai terkoreksi setelah kenaikan tajam sebelumnya, sementara data aktivitas bisnis Amerika Serikat menunjukkan ekonomi masih tumbuh kuat. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah dan harga emas mencoba pulih setelah mengalami tekanan jual.
OIL: Harga Minyak Terkoreksi, Risiko Pasokan Masih Membayangi
Harga minyak mentah melemah setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam hampir enam bulan. Dalam laporan perdagangan awal, minyak WTI berada di sekitar US$101,04 per barel, sedangkan Brent berada di sekitar US$114,51 per barel.
Koreksi tersebut terjadi di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik dan upaya diplomatik yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan. Namun, ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas harga minyak.
Pergerakan minyak penting bagi perekonomian global karena energi memengaruhi biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang. Jika harga minyak kembali meningkat, tekanan inflasi dapat bertambah dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga. Sebaliknya, penurunan harga minyak yang berkelanjutan dapat membantu meredakan tekanan biaya energi.
PMI AS: Aktivitas Bisnis Kuat, Tekanan Harga Meningkat
Data awal S&P Global untuk Oktober menunjukkan aktivitas bisnis Amerika Serikat masih berkembang dengan kuat. Composite PMI turun menjadi 57,6 dari 58,4 pada September, tetapi tetap berada jauh di atas angka 50 yang menandakan ekspansi ekonomi.
Manufacturing PMI meningkat menjadi 56,0, sementara Services PMI berada di 57,9. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas sektor manufaktur dan jasa masih mengalami pertumbuhan, meskipun sebagian indikator melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Perhatian pasar tertuju pada meningkatnya biaya produksi dan harga jual. Kenaikan biaya energi, bahan baku, serta transportasi dapat mendorong perusahaan menaikkan harga barang dan jasa. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekanan inflasi meskipun pertumbuhan aktivitas bisnis mulai melambat.
PMI yang kuat disertai tekanan harga dapat membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter. Apabila kondisi tersebut mendorong ekspektasi suku bunga bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan.
DXY: Dolar AS Melemah di Tengah Penantian Keputusan The Fed
Indeks dolar AS atau DXY bergerak melemah ketika pasar memasuki pekan yang dipenuhi agenda bank sentral. Dalam laporan pasar sebelumnya, DXY berada di sekitar 101,64, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,974%.
Penurunan imbal hasil Treasury dapat mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar. Namun, arah DXY tetap bergantung pada ekspektasi suku bunga, kondisi ekonomi AS, serta perbedaan kebijakan moneter dengan negara lain.
Pasar kini menantikan keputusan Federal Reserve pada 27–28 Oktober. Selain keputusan suku bunga, pernyataan dan panduan kebijakan dari The Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah dolar berikutnya.
Apabila data ekonomi tetap kuat dan tekanan inflasi meningkat, pasar dapat memperkirakan suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi mendukung dolar dan membatasi kenaikan emas. Sebaliknya, penurunan yield Treasury yang berkelanjutan dapat memberikan ruang bagi DXY untuk melemah.
GOLD: Emas Mencoba Pulih Setelah Turun di Bawah US$4.000
Harga emas dunia mulai mencoba bangkit setelah mengalami tekanan jual dalam beberapa sesi sebelumnya. Dalam laporan pasar pagi, emas spot naik sekitar 0,4% ke US$4.009,87 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$3.986,50 pada sesi sebelumnya.
Koreksi harga minyak dan pelemahan dolar memberikan ruang bagi emas untuk mencoba pulih. Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi tantangan karena pasar menilai kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung menghadapi tekanan ketika imbal hasil obligasi meningkat dan ekspektasi suku bunga menguat. Karena itu, pergerakan DXY dan Treasury menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan bersama struktur teknikal emas.
Level US$4.000 menjadi area psikologis penting bagi pasar. Jika emas mampu bertahan di atas area tersebut dan membangun momentum pemulihan, peluang penguatan dapat terbuka. Namun, apabila tekanan jual kembali meningkat, harga berisiko bergerak turun lagi.
Pasar juga menantikan data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE yang dijadwalkan pada 29 Oktober. Data ini menjadi perhatian karena PCE merupakan salah satu ukuran inflasi utama yang digunakan Federal Reserve dalam mengevaluasi kondisi perekonomian dan kebijakan moneternya.
KESIMPULAN: Inflasi Menjadi Penghubung Utama Oil, PMI, DXY, dan Gold
Pergerakan keempat instrumen menunjukkan hubungan erat antara harga energi, aktivitas ekonomi, inflasi, dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Koreksi harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi energi, tetapi risiko gangguan pasokan masih dapat mendorong harga naik kembali. Sementara itu, data PMI menunjukkan aktivitas bisnis AS tetap kuat dan tekanan harga meningkat, sehingga inflasi berpotensi bertahan lebih tinggi.
Jika kenaikan biaya energi dan kuatnya aktivitas bisnis membuat The Fed mempertahankan kebijakan ketat, dolar berpotensi menguat dan emas dapat menghadapi tekanan. Sebaliknya, jika harga minyak terus turun, yield Treasury melemah, dan ekspektasi suku bunga mereda, kondisi tersebut dapat memberikan dukungan bagi emas.
Fokus pasar selanjutnya adalah keputusan Federal Reserve, data PCE, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta perubahan imbal hasil Treasury AS. Kombinasi faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah XAUUSD, Oil, dan DXY dalam beberapa sesi mendatang.